Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 22 April 2012

Kepemimpinan Kristen


EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI KERJA MELALUI HUBUNGAN YANG SEHAT DALAM KEPEMIMPINAN KRISTEN
(Pdt. Tjandra Tan, M.Th)

A.        Pendahuluan
Kepemimpinan berhubungan dengan pekerjaan dan orang yang dipimpin dimana di dalam dan melalui mereka seorang pemimpin menyelesaaikan pekerjaan yang direncanakan/ditetapkan sebelumnya. Seorang pemimpin diperlukan dalam setiap usaha bersama yang memiliki tujuan tertentu. Pengaruh kepemimpinan dapat terlihat dari orang yang dipimpin selalu mengikuti arah yang ditetapkan, pengenalan akan batas kemampuan diri, dan keadaan sepenuhnya orang yang dipimpin. Lebih lanjut, pekerjaan atau tugas akan selalu menghubungkan orang yang memimpin dan orang-orang yang dipimpin. Kepemimpinan yang berhasil haruslah mengenal tugas terpadu yang diemban dengan cakupan pengenalan akan orang dipimpin serta cara memimpin yang selalu terjadi.[1]
Kepemimpinan yang berhasil nampak pada penerapan praktis prinsip kepemimpinan dalam kinerja. Sejauh mana efektivitas dan efisiensi kepemimpinan terletak sepenuhnya pada pemimpin sebagai faktor penentu. Bagaimana pemimpin melihat diri, bawahan, organisasi masyarakat, lingkungan, serta faktor lain, sangat menentukan efektivitas dan efisiensi kepemimpinan dari pemimpin tersebut. Pemimpin efektif menekankan tentang kualitas yang ada padanya, sedangkan pemimpin efisien berbicara tentang kuantitas daya dan upaya serta produktivitas kepemimpinan.[2]
Berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi kerja, kesehatan hubungan antara pemimpin dengan bawahan perlu diperhatikan. Kepemimpinan tidak mungkin lepas dari interaksi dengan individu (pemimpin dan para bawahan) dan variabel dalam situasi serta lokus (lokus sosio-budaya dan kerja) kepemimpinan dimana kepemimpinan diterapkan.[3]  Kepemimpinan berkembang dari proses interaksi sosial antara antara pemimpin (aksi) dan anggota kelompok/bawahan (reaksi). Adanya pengakuan dan dukungan dari anggota kelompok terhadap pemimpin, dapat dikatakan bagian dari interstimulasi sosial dalam proses kepemimpinan. Kepemimpinan menempati posisi penting dalam mekanisme sosial dan bila tidak terjadi proses interstimulasi maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada kepemimpinan.
Bila diletakkan dalam kerangka studi kepemimpinan karya DR.Yakob Tomatala, masalah efektivitas dan efisiensi banyak disoroti dalam nilai-nilai dasar kepemimpinan (khususnya nilai filosofis) sedangkan kesehatan hubungan menyinggung perlengkapan dasar kepemimpinan (alat perlengkapan).[4] Dalam buku lain karya beliau, “Mastering Planning”, pada pokok bahasan tentang evaluasi guna melacak kemajuan, kesehatan hubungan masuk dalam kategorial evaluasi organisasi sedangkan efektivitas dan efisiensi termasuk kategorial evaluasi kinerja program/proyek.[5]  Bagan sehubungan pokok bahasan refinesasi menguatkan akan hal ini pula,[6] walau hasil modifikasi studi kepemimpinan memasukkannya dalam satu golongan “Doktrin Dasar Kepemimpinan”.
Sudah tentu demi kegunaan pembelajaran,  pemisahan dan penggolongan bagian-bagian dari studi kepemimpinan amat memungkinkan. Ketajaman dan kedalaman kajian ilmu dan seni kepemimpinan justru diperkaya dalam hal ini. Keakuratan dan kesahihan data guna verifikasi/pengevaluasian, boleh dikata beranjak dari kejelasan klasifikasi studi yang ditelaah sedangkan yang lain tidak. Meski kena-mengena dengan elemen dasar kepemimpinan maupun pekerjaan/tugas dasar kepemimpinan, perkenankan saya membatasi penulisan makalah ini dengan berfokus pada nilai-nilai dasar kepemimpinan yaitu nilai teologis dan nilai filosofis.

B.        Efektivitas, Efisiensi, dan Kesehatan Hubungan dalam Nilai-nilai Dasar Kepemimpinan
            a.         Nilai Teologis Kepemimpinan Kristen
Kepemimpinan Kristen ialah “suatu proses terencana yang dinamis dalam konteks pelayanan Kristen (yang menyangkut faktor waktu, tempat, dan situasi khusus) yang didalamnya oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi diriNya seorang pemimpin (dengan kapasitas penuh) untuk memimpin umatNya (dalam pengelompokan diri sebagai suatu institusi/organisasi) guna mencapai tujuan Allah (yang membawa keuntungan bagi pemimpin, bawahan, dan lingkungan hidup) bagi dan melalui umatNya, untuk kejayaan KerajaanNya.[7]
Beberapa unsur dari definisi di atas memberi tempat pada Allah yang berinisiatif, berencana dan berkarya dalam kepemimpinan melalui ‘manusia baru’ yang dipilih untuk memimpin orang lain dengan berbagai situasi pelayanan yang bermuara pada kemuliaanNya. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (Rm.11:36). Kepemimpinan Kristen beranjak dari Allah dan berakhir pada Dia yang memberi amanat serta memakai orang-orang pilihanNya yang telah ditebus oleh Kristus.
Tema penebusan dalam kepemimpinan Kristen begitu penting bukan hanya sebagai pembeda dengan kepemimpinan dunia, nilai teologis yang mendasarinya bertitik-tolak dari kejatuhan manusia dalam dosa. Memang fondasi teologis kepemimpinan Kristen dapat ditarik sejauh karya penciptaan yang agung-mulia dan kudus, namun realitas kepemimpinan setelah Kejadian pasal 3 menuntut pembaruan bila tidak menginginkan kuasa dosa dan maut terus membelenggu manusia. Dosa membuat manusia telah kehilangan wewenang rohani atas dunia dan bahkan penyalahgunaan wewenang yang dari Allah untuk menentangNya.
Penebusan kekuasaan untuk pelaksanaan ekonomi (Ger. Oikonomia –Ef 1:10) ilahi dalam kepemimpinan Kristen merupakan kekuasaan dan sumber kekuasaan baru yang sama sekali berbeda dari segala konsepsi dunia (I Kor 1:18, 22-24). Kekuasaan dan sumber kekuasaan baru yang mempengaruhi kepemimpinan Kristen itu berasal dari Kristus yang disalibkan guna penebusan manusia yang telah berdosa. Hanya Allah yang empunya segala kekuasaan secara sah dan didalam serta melalui Yesus Kristus, kita dipakai menjadi pemimpin-pelayanNya.
Dalam proses penebusan, Yesus bukan hanya memunculkan tipe kekuasaan baru yang tertebus, Ia juga menciptakan dan meneladankan sosok kepemimpinan baru yang dapat memegang kekuasaan itu. Satu gebrakan yang Yesus lakukan untuk menggugurkan segala konsep kepemimpinan duniawi, betapapun kukuhnya secara budaya.
Penebusan kekuasaan dan penebusan kepemimpinan sama-sama perlu, karena kita tidak dapat menggabungkan ciptaan lama dengan ciptaan baru, sama seperti kita tidak dapat menyimpan dengan aman anggur baru ke dalam kantung anggur yang lama (Luk 5:37). Dengan kata lain, tipe kepemimpinan lama tidak dapat memahami, apalagi menangani kekuasaan baru. Demikian juga kekuasaan yang baru tidak dapat melakukan hal-hal yang biasanya hendak dilakukan oleh pemimpin lama.
Ketika Yesus mengatakan “tidak demikian di antara kamu” (Mat 20:26), Ia membatalkan hak kekuasaan segala konsep kepemimpinan yang ada. Sebagai gantinya, Ia memperkenalkan satu-satunya tipe kepemimpinan yang dapat diberi kepercayaan memegang kekuasaan itu tanpa menjadi rusak karenanya.[8] Pemimpin-pelayan yang telah terbebas dari sindroma status, mendapat perhatian khusus oleh Tom Marshall, namun dalam kinerja kepemimpinan Kristen maka paling tidak ketiga hal ini harus dimiliki yaitu:

                        1.         Kasih sebagai motif dalam kepemimpinan
Kasih dari Allah merupakan dasar dari kehidupan Kristen. Kasih yang murni dari Allah di dalam Yesus Kristus akan menjadi sumber air kehidupan (Yoh 5:14; 7:38) pada diri orang-orang percaya untuk mengasihi sesama. Kasih Yesus Kristus yang menguasai orang percaya sesungguhnya menjadi faktor pengontrol, pendorong dan pendesak dalam kepemimpinan Kristen berhubungan dengan orang lain (II Kor 5:14).[9] Orang lain dalam kasihNya dilihat sebagai ciptaan Allah, hubungan yang diletakkan antara subjek dengan subjek, membawa pengaruh besar dalam kepemimpinan yang tidak otoriter dengan pemaksaan otoritatif struktural secara ketat. Mengasihi sesama seperti diri sendiri yang telah dikuasai kasih Yesus Kristus berlawanan dengan egoisme dari egosentris. Kepemimpinan Kristen bermotif kasih akan membawa orang lain segambar dengan Allah, seimbang dalam karakter dan rohani, semangat dalam RohNya yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan.

                        2.         Pelayanan sebagai metode dalam kepemimpinan
Yesus datang untuk melayani dan Ia adalah hamba Allah yang dipilih Allah (Yoh 1:34 bnd. Yes 42:1) untuk menghapus dosa dunia (Yoh 1:29). Dalam pengajaranNya yang dicatat pada Injil Lukas 22:37, Yesus mengutip kitab Yesaya 53:12 dengan menggunakan kata-kata yang kuat mengenai penggenapan, yang ditekankan dengan pengulangan. Motif penggenapan yang kuat ini memperlihatkan secara tidak langsung suatu kesadaran yang teguh dari pihak Yesus bahwa tokoh Hamba yang dimaksud PL itu, dalam satu atau lain cara digenapi di dalam Dia. Ia sendiri akan segera terhitung di antara pemberontak-pemberontak, tepat sekali seperti Hamba Tuhan dalam kitab Yesaya. Metode pelayanan sampai mati sebagaimana yang dikerjakan Yesus dalam kepemimpinanNya, sulit untuk di mengerti dan di lakukan oleh murid-muridNya sampai mereka menerima kuasa yang dijanjikan untuk menjadi saksi/pelayanNya (Kis 1:8). Dauglas Hyde dalam bukunya: “Dedication and Leadership” melihat adanya kinerja yang optimum pada pengikut komunis ketimbang orang-orang Katolik sebagai pembanding. Apakah keberhasilan kepemimpinan dalam komunisme yang oleh beberapa orang dikatakan imitasi atau adaptasi dari kekristenan dapat diterima bila melihat sikap-sikap, metode-metode dan teknik-teknik ?[10]  Jawaban yang dapat diberikan bila melihat pelayanan yang Yesus Kristus kerjakan, sesungguhnya sangat berbeda dengan tekanan yang diberikan pengikut komunisme walau nampak berdedikasi tinggi terhadap pemimpin mereka atau ideologi. Melayani dengan kerelaan, kesadaran akan kasih Kristus, dan kasih yang segenap hati yang diwujudnyatakan dalam tindakan, itulah yang indah dalam Tuhan bukan ditemukan pada ajaran atau kepemimpinan non-kristen.

                        3.         Penebusan sebagai tujuan dalam kepemimpinan
Tujuan dalam kepemimpinan Kristen tidak bisa tidak membawa orang lain atau orang yang dipimpim kepada pengenalan akan Yesus Kristus dan karya penebusan yang harus dialami. Penebusan Kristus akan berdampak pada perubahan paradigma kepemimpinan, efektivitas dan efisiensi kerja, serta kesehatan hubungan sosial dalam kerangka “ciptaan baru”. “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20;, merupakan penebusan hidup, waktu dan karya didalam kehidupan.


b.         Nilai Filosofis Kepemimpinan Kristen
Mempersempit pemibicaraan dan memfokuskan pada pribadi Yesus, didapati falsafah kepemimpinan dimana diriNya sendiri sebagai Pemimpin-Mesias (Mat 23:18) yang telah terbukti di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Seorang pemimpin lengkap dengan karakter yang tangguh, pengetahuan yang komperhensif dan khas, serta kecakapan sosial dan tekhnis yang andal dalam kepemimpiNya (bnd. Luk 4:34; Mat 7:28,29).
Pembuktian keandalan Yesus sebagai seorang pemimpin diwujudkan dengan memanggil, melatih, mengembangkan dan mengutus para pemimpin ke dalam pelayanan (Mat 10:1-4; 5-15; Mrk 3:13-19). Keunggulan kepemimpinan Yesus terbukti dengan adanya pemimpin baru yang dihasilkan dan memimpin secara unggul dalam meneruskan kepemimpinanNya (bnd. Luk 22:32; I Ptr 5:1-5).
Tiga kelebihan lain dalam kepemimpinan Yesus yang disebutkan Dr.Yakob Tomatala yaitu kaidah kencana dalam Mat 7:12, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka,” inisiator-proaktif-teladan; kaidah kepemimpinan dalam Mrk 10:43-44, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka dianta kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya,” pemimpin-hamba;  dan analogi tubuh Kristus dimana Yesus Kristus sebagai Kepala merupakan landasan dan dinamika organisasi       (I Kor 12:12-30; Ef 4:15-16).
Analogi tubuh Kristus memperlihatkan peran yang unik dari masing-masing anggota tubuh, adanya sinergi-mekanis antar tiap anggota tubuh, dan kerjasama yang harmonis. Dengan kata lain, kesatuan dalam diversitas, diversitas bagi kesatuan, dan kejelasan hubungan fungsional pada anggota-anggota tubuh, mengental dalam Kekepalaan Kristus sebagai pemimpin.[11] Konsep ‘Tubuh Kristus’ adalah analogi dasar bagi hakikat, peran, fungsi, struktur, mekanisme/masinesasi, sistem, dinamika dan kinerja organisasi Kristen. Analogi Tubuh Kristus sebagai model par excellence dari organisasi dengan daya efektivitas, efisiensi, dan kesehatan hubungan yang menjamin optimalisasi kinerja tinggi (high performance) dalam kepemimpinan,[12] perlu ditelaah secara mendalam. Akar-akar filosofis yang sarat dengan nilai teologis memungkinkan untuk melengkapi organisasi dengan dinamika revitalisasi yang besar untuk membenahi dan meneguhkan diri.
Nilai filosofis lainnya dibalik kepemimpinan Kristen, efisiensi dan efektivitas ditempatkan berkenaan dengan prioritas yang harus diterapkan oleh seorang pemimpin demi kesuksesan. Efisiensi adalah landasan untuk kelestarian, sedangkan efektivitas adalah landasan sukses. Prioritas tugas dapat dibagi menjadi empat yaitu sangat penting/sangat mendesak, sangat penting/kurang mendesak, kurang penting/sangat mendesak, kurang penting/kurang mendesak.[13]  Penebusan hidup yang berkenaan dengan waktu dan penggunaannya (disebut dalam nilai teologis), patutlah dipahami sedemikian rupa.
Kecakapan di bidang waktu ( Time Competence ) memerlukan beberapa perhatian yang menuntut usaha, kemauan, praktek yang dilandasi cita-cita. Kali pertama kita dapat merenungkan selama sepanjang hari dan pada akhir hari berapa banyak waktu kita habiskan untuk memikirkan masa lampau atau masa depan, atau hanya masa kini. Memperkembangkan kesadaran selama sepanjang hari merupakan langkah berikutnya; berapa kali kita jatuh hanya memikirkan masa lampau, masa depan atau masa kini yang dilepaskan dari masa lampau dan masa depan. Lalu mengembangkan disiplin untuk membawa diri kita kembali ke kenyataan, dan kebiasaan “hadir”  “disini” dan “di tempat ini”.[14]
Lalu berkenaan dengan kesehatan hubungan dalam kepemimpinan, John C. Maxwell mengemukakan tiga pra-syarat bagi seorang pemimpin yang dapat diperbuat untuk mengembangkannya yaitu:
1.         Memiliki kemampuan untuk memahami orang lain
Kemampuan memahami perasaan serta pikiran orang lain akan menghasilkan hubungan yang baik dengan sesama. Kesadaran akan beberapa kesamaan antara pemimpin dengan pengikut perlu dilestarikan disamping perbedaan-perbedaan yang unik pada setiap pribadi.
2.         Memiliki kemampuan untuk mengasihi orang lain
Pemimpin harus memiliki empati terhadap orang lain dan kemampuan untuk menemukan yang terbaik dalam diri orang lain. Menjadi pemimpin efektif yang sejati sekaligus sebagai panutan, tidak bisa tidak mengasihi orang lain.
3.         Memiliki kemampuan untuk membantu orang lain
Lebih mementingkan memberi ketimbang mengambil kekayaan sumber daya manusia tanpa terkendali akan menciptakan landasan yang baik untuk membangun hubungan. Fokus seorang pemimpin hendaknya mengut`makan kepentingan orang lain, apa yang dapat diberikan daripada apa yang dapat diperoleh dari orang lain.[15]
Kesemua nilai filosofis yang dibicarakan diatas, memerlukan pula evaluasi dalam proses kepemimpinan yang berkaitan erat dengan supervisi atau pengawasan. Fungsi evaluasi merupakan tindakan khusus untuk memastikan apakah perencanaan strategis, organisasi, keuangan, dan kinerja telah memiliki efektivitas dan efisiensi yang tinggi atau belum. Bisa dikatakan pula bahwa evaluasi menyediakan sistem sederhana yang cepat, tepat, dan jelas untuk memastikan peran supervisi/pengawasan yang mendorong efektivitas/efisiensi/optimalisasi kepemimpinan dan sekaligus menyediakan data bagi refinesasi.[16]

C.        Penutup
Kepemimpinan yang dinamis hanya mengenal istilah maju dimana imannya meyakinkan dia bahwa Tuhan pasti buka jalan. Kegagalan atau kebuntuan di suatu arah merupakan tantangan untuk koreksi diri yang kemudian membuahkan kemampuan melihat cela-cela hidup jalan Allah yang disediakan baik secara wajar atau secara mukjizat.
Kepemimpinan Kristen sesungguhnya kaya akan sifat-sifat positif, konstrktif, dan kreatif. Sifat positif akan bergerak menuju suatu sasaran yang pasti berdasarkan perencanaan yang mantap, bukan sekadar reaksi emosional terhadap situasi dan lingkungan. Kritik, rintangan, maupun tantangan, tak merekakan dan membelokkan arah gerak kepemimpinan yang positif. Keasyikan menatap sasaran membuat kesulitan menjadi beban kecil yang dibawa berlari menuju sasaran itu. Sifat konstruktif dalam derap sasaran yang pasti, tidak mendatangkan kehancuran maupun kerugian bagi sekelilingnya terutama sesame manusia. Setiap rintangan dihadapi dengan hikmat dan bijaksana sehingga hasil yang akhir dinikmati oleh sekitarnya, lawan atau kawan, ialah berkat gerakkannya. Sifat konstruktif membuat seorang pemimpin tidak bertepuk dada dalam keberhasilannya dan tidak putus asa dalam kegagalannya. Sedangkan kepemimpinan kreatif ialah corak kepemimpinan yang menghadirkan kreasi-kreasi baru yang memiliki nilai-nilai estetis alkitabiah dan nilai-nilai relevansi budaya lingkungan dalam penjangkauan sasaran.[17] Efektivitas, efisiensi, dan kesehatan hubungan dalam kepemimpinan Kristen melibatkan kesemua sifat tersebut dimana yang paling transparan dijumpai pada pribadi Yesus Kristus.   

DAFTAR PUSTAKA



Hyde, Dauglas.           Dedication and Leadership.
                                    Indiana-USA: University of Notre Dame Press, 1983

Keating, Charles J.      Kepemimpinan: Teori dan Pengembangannya
                                    Yogyakarta: Kanisius, 1991

Maxwell, John C.        Mengembangkan Kepemimpinan di dalam Diri Anda
                                    Jakarta: Binarupa Aksara, 1995

Maxwell, John C.        21  Kualitas Kepemimpinan Sejati
                                    Batam: Interaksara, 2001

Marantika, Chris.        Kepemimpinan Kristen yang Dinamis
                                    Surabaya: Yakin, 2001

Marshall, Tom.            Pemimpin Efektif
                                    Jakarta: Metanoia, 1996
                                                                                              
Tomatala, Yakob.        Mastering Planning
                                    Jakarta: YT Leadership, 2001

Tomatala, Yakob.        Kepemimpinan Kristen:
Mencari Format Kepemimpinan Gereja yang Kontekstual di Indonesia
Jakarta: YT Leadership, November 2002

Tomatala, Yakob,        Kepemimpinan yang Dinamis
                                    Jakarta-Malang: YT Leadership & Gandum Mas, 1997

Tomatala, Yopie.         Penatalayanan Gereja yang Efektif di Dunia Modern
                                    Malang: Gandum Mas, 1987

Wolff, Richard.           Man at the Top: Creative Leadership
                                    Wheaton-Illinois: Tyndale, 1969


[1] Yopie Tomatala, Penatalayanan Gereja yang Efektif di Dunia Modern (Malang: Gandum Mas, 1987) 51-52.
[2] Yakob Tomatala, Kepemimpinan yang Dinamis (Jakarta-Malang:YT Leadership & Gandum Mas, 1997) 256.
[3] Ibid, 3
[4] Ibid, 24, 27
[5] Yakob Tomatala, Mastering Planning (Jakarta, YT Leadership, 2001) 85.
[6] Ibid, 97, 102, Efektivitas dan efisiensi masuk dalam kategorial unsur kerja sedangkan kesehatan hubungan masuk kategorial unsur organisasi.
[7] Tomatala, Kepemimpinan yang Dinamis, 43.
[8] Tom Marshall, Pemimpin Efektif (Jakarta: Metanoia, 1996) 59-73.
[9] Richard Wolff,  Man at the Top: Creative Leadership (Wheaton-Illinois: Tyndale, 1969) 30. Ketiga konsep yang disebutkan berasal dari buku ini meskipun isi dikembangkan oleh penulis sesuai kebutuhan penulisan makalah.
[10] Dauglas Hyde, Dedication and Leadership (Indiana-USA: University of Notre Dame, 1983, 5-9.
[11] Yakob Tomatala, Kepemimpinan Kristen: Mencari Format Kepemimpinan Gereja yang Kontekstual di Indonesia (Jakarta: YT Leadership, November 2002), 45-65.
[12] Ibid, 93.
[13] John C Maxwell, Mengembangkan Kepemimpinan di dalam Diri Anda (Jakarta: Binarupa Aksara, 1995), 22-23.
[14] Charles J Keating, Kepemimpinan: Teori dan Pengembangannya (Yogyakarta: Kanisius: 1991) 103.
[15] John C Maxwell, 21 Kualitas Kepemimpinan Sejati (Batam: Interaksara, 2001) 151-154.
[16] Yakob Tomatala, Mastering Planning (Jakarta: YT Leadership, 2001), 83.
[17] Chris Marantika, Kepemimpinan Kristen yang Dinamis (Surabaya: Yakin, 2001), 7-8.

Kamis, 01 Maret 2012


JALAN TUHAN

Pengantar
Roland, perwira Karel Agung, mendapat tugas memimpin pasukan belakang ketika dia tiba-tiba diserang oleh Saracens. Pertempuran berlangsung seru melawan musuh-musuh itu. Roland memiliki terompet yang disebut Olivant, yang diambilnya dari raksasa Jatmund, dan suaranya bisa didengar sampai tiga puluh mil. Suaranya sedemikian keras, sehingga konon, burung-burung terjatuh dan mati bila suara terompet itu terdengar.
Oliver, sahabatnya, meminta Roland agar meniup terompet itu sehingga Karel Agung bisa mendengarnya dan kembali membantunya. Tapi Roland terlalu sombong untuk meminta bantuan. Satu demi satu serdadunya tewas sampai akhirnya hanya dia sendiri yang tersisa. Kemudian, akhirnya dengan nafas yang hampir habis, dia meniup terompet itu, dan Karel Agung datang ke belakang dengan cepatnya…tetapi terlambat. Roland sudah tewas…karena ia terlalu sombong untuk meminta bantuan.
·         William Barclay
Biasanya apa yang memberatkan kita untuk mengungkapkan pergumulan kita pada orang lain? Menurut saudara, apakah fungsi orang lain yang ada disekitar kita? Mengapa demikian?

Perenungan
Berjalan adalah aktivitas badani yang lazim dilakukan oleh orang-orang normal dalam jarak tempuh tertentu. Alkitab mencatat kebiasaan orang pada zaman itu berjalan sehari 7-8 jam dapat menempuh 30-40 km bergantung medan dan situasi. Bagi orang yang tidak sanggup berjalan atau lumpuh, persoalan datang menghinggapinya. Ia dapat merasa kehidupan seolah-olah bergantung dan berharap pada orang lain. Kegiatan menjadi terbatas, kemauan ada namun tidak leluasa dan tidak berdaya melawan kelemahan dan kekurangan yang ada. Jawaban orang lumpuh yang berbaring tiga puluh delapan tahun di pinggir kolam Betesda mencerminkan keberadaannya yang tanpa harapan (Yoh 5:7). Berjalan itu penting, namun siapa yang dapat menolong dia berjalan?
Yesus sanggup memulihkan keadaan lahiriah orang yang tidak dapat berjalan, namun kesembuhan yang Ia lakukan menyentuh juga aspek batin dan rohani (Yoh 5:14). Orang yang lumpuh secara fisik perlu disembuhkan batin dan rohaninya. Ia sebelumnya telah berjalan dalam maksud dan tujuan yang keliru. Karena maksud dan tujuan manusia terungkap pada jalan yang ditempuhnya, maka Yesus berkata: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” Berjalan dalam dosa (seperti orang yang lumpuh) akan berakhir pada maut, berjalan dalam Kristus (seperti orang yang disembuhkan dari lumpuh) bermuara pada kebenaran dan hidup. Dosa melumpuhkan manusia, namun Kristus sanggup membangkitkannya untuk berjalan dalam maksud dan tujuan Allah. Seluruh tingkah laku orang yang telah disembuhkan oleh Yesus harus hidup sesuai dengan firman Allah. Lalu apa yang firman Allah katakan saat kita berjalan dalam kehendak-Nya?
 Allah mau memakai orang lain untuk memimpin kita hidup dalam kebenaran. “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (Yes 40:3). Nubuatan dari nabi Yesaya ini secara sengaja dikutip oleh penulis keempat Injil (Mat 3:3; Mrk 1:3; Luk 3:4; Yoh 1:23) yang mengarah pada Yohanes Pembaptis sebagai utusan Allah sebelum kedatangan Mesias. Ia adalah orang yang mempersiapkan jalan (Bhs.Ibr.derek; Yun.hodos) sedangkan Yesus sendiri adalah jalan yang menghubungkan manusia dengan Allah. Allah memakai Yohanes untuk mempersiapkan umat-Nya menerima keselamatan yang sejati di dalam Yesus. Yohanes Pembaptis sama seperti orang-orang pilihan Allah yang diutus pada kita untuk menolong, membimbing, mengingatkan dan mengarahkan kita untuk hidup dalam jalan Tuhan.
Tidak ada seorang pun yang tidak membutuhkan orang lain. Allah memakai orang lain untuk memimpin kita. Manusia selalu diberi tanggung jawab untuk menjadi terang bagi orang lain. Sama seperti orang tua bertanggung-jawab memimpin anak-anaknya di dalam kebenaran, demikian juga Allah menjadi manusia di dalam Yesus untuk memimpin murid-murid-Nya. Ia memberi kemampuan pada orang lain untuk memperlengkapi kita. Orang-orang yang telah berjalan bersama dengan Tuhan dapat memimpin kita pada jalan-jalan-Nya. Kita harus terbuka dan rela dipimpin oleh orang lain demi maksud dan tujuan ilahi. Berjalan dengan kehendak sendiri, tanpa Tuhan dan orang lain yang dipakai oleh-Nya, adalah sebuah petualangan yang membahayakan diri.  Ego kita harus ditaklukkan pada Allah dengan komitmen patuh pada-Nya dan bersedia berjalan dalam nasihat orang benar.

Penerapan
  • Apa kata Alkitab tentang jalan orang fasik (Mzm 1:4-6)? Bagaimana dengan jalan orang benar (ay 1-3)?
  • Bila jalan orang benar tidak mengindahkan nasihat orang fasik dan tidak mengarah pada kumpulan mereka (ay 1), darimanakah nasihat, dorongan dan kekuatan diterima oleh orang percaya (Ibr 10:24-25)? Maukah kita menerima bimbingan dari saudara seiman?
 Ayat emas:

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan”
Amsal 19:20 


“Jangan terperangkap dalam ego sendiri, karena nanti akan menjadi penjara”

-Barbara Ward

Selasa, 24 Januari 2012


INSAF AKAN DOSA

Pengantar
Setiap orang membawa dua ransel: satu di dadanya dan satu lagi di punggungnya. Kedua ransel itu penuh dengan dosa dan kesalahan.
Ransel yang di dada berisi dosa dan kesalahan orang lain; ransel yang di punggung penuh dengan dosa dan kesalahan sendiri. Itulah sebabnya manusia buta terhadap dosa dan kesalahan-kesalahannya sendiri tapi tidak pernah tak melihat kesalahan-kesalahan orang lain.                                                   - Fabel Aesop
Apakah gambaran di atas mewakili kita? Bagaimana kita dapat mengatasi kesalahan yang tidak kita sadari namun terus mempengaruhi jiwa kita?

Perenungan
Tidak ada seorangpun yang mengetahui isi hati manusia selain rohnya (1 Kor 2:11) dan Roh Allah (Bhs.Ibr.ruakh; Yun.pneuma) yang menjadikan manusia (Kej 2:7). Roh Allah yang menyelidiki segala sesuatu, tahu persis apa yang dialami dan dibutuhkan oleh manusia. Manusia tidak mungkin menjauhi Roh Allah. Ungkapan pemazmur: “Ke mana aku dapat menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? (Mzm 139:7)” merupakan ekspresi kemahatahuan dan kemahahadiran Roh Tuhan. Langit beserta bumi dengan segala isinya, dunia orang hidup atau dunia orang mati sekalipun, tidak luput dari keberadaan Roh Allah (Mzm 139:8-12). Ia tahu apa yang kita perbuat, karena ia hadir persis bersamaan dengan kejadian dimana waktu itu mungkin orang lain tidak tahu.
Hanya Roh Allah yang tahu persis apa yang kita alami, sehingga Ia mau menyadarkan kita untuk mau berubah menjadi baru. Ia peduli akan kehidupan kita, bersedia menolong dan menyampaikan setiap keluhan yang tak terucapkan dari mulut kita kepada Allah (Rm 8:26). Bila kita disadarkan akan dosa dan pelanggaran yang kita perbuat, hendaklah kita rela bertobat. Pentingnya pertobatan bagi John R. Rice dalam bukunya Bila orang Kristen berdosa, karena kita akan kehilangan sukacita (Mzm 51:10-15), kehilangan pimpinan dan pertolongan Roh Allah (Ef 4:30; 1 Tes 5:19), terus diajar oleh Tuhan dengan berbagai cara (Ibr 12:4-8), kehilangan semangat dan kuasa untuk memenangkan jiwa dan kita akan  membawa cela bagi Kristus dan firman-Nya.
Panggilan Allah yang mulia pada diri kita melibatkan pekerjaan Roh Allah yang menginsafkan kita akan dosa. Tujuan Allah tidak akan tercapai bila dosa yang mengarahkan kita pada sasaran yang salah terus bekerja. Kita harus berpaling pada Allah melalui Roh-Nya demi keselamatan kita dan tujuan Allah yang sejati digenapi dalam hidup kita. Roh Allah yang memberi hidup, yang membimbing dan mengarahkannya dalam pencapaian perkenanan Allah. Ia diibaratkan angin atau nafas yang memiliki kekuatan dan daya kehidupan bagi manusia. Segala segi kehidupan manusia akan mencerminkan kemuliaan Allah bila roh manusia mempunyai hubungan yang benar dengan Roh Allah. Karena kekuatan dan daya hidup berasal dari Roh Allah, maka seyogianya kita rela diingatkan dan mau bergaul karib dengan-Nya.
Bagi pemazmur, kehadiran Roh Kudus berarti kehancuran roh manusia dan penyesalan, hati yang bersih, setia dan bahagia. Dalam Mazmur 139 didapati bahwa kehadiran Roh Allah sama seperti kehadiran Allah. Kehadirannya berimplikasi pada diri dan hidup kita yang transparan di mata-Nya. Bila pemazmur berkata: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm 139:23-24), tatkala berhadapan dengan Allah, bagaimana dengan kita?

Penerapan
  • Apa janji Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya dan juga kita pada masa kini sebelum Ia disalibkan (Yoh 16:7)?
  • Apa fungsi dari Penghibur (Bhs.Yun.parakletos) yang dikatakan oleh Tuhan Yesus bagi kita (Yoh 16:8)? Relakah kita dipimpin oleh Roh Kebenaran (ay 13) sekaligus dinyatakan kesalahan dan dosa kita?

Ayat emas:
“Hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah”
(Mazmur 51:19)
 
“Bahaya utama yang akan menantang kita di abad ini adalah agama tanpa Roh Kudus, kekristenan tanpa Kristus, pengampunan tanpa pertobatan, keselamatan tanpa pembaruan hidup, 
politik tanpa Allah dan surga tanpa neraka”

William Booth
Pendiri Bala Keselamatan

Selasa, 08 November 2011

TABIB ORANG SAKIT

Pengantar
            Dalam suatu perkumpulan anak-anak cacat yang dihadiri sebagian besar adalah orang tua dan guru anak-anak cacat mental, sebuah kisah bertutur tentang dunia pendidikan di Michigan di mana sampai kelas enam diintegrasikan antara anak-anak cacat mental dengan anak-anak normal. Suatu ketika tatkala waktu istirahat, seorang murid berbicara kepada temannya, “Ayo, Theresa, ayo kita pergi. Biarkan Elizabeth, dia cacat.”
            Mereka berdua pun pergi, dan Elizabeth, yang cacat mental namun tidak tuli, dengan perlahan berjalan ke depan dan berkata kepada gurunya, “Bu guru, apakah saya cacat?”
Dan guru itu tersenyum dengan ramah dan memegang tangan Elizabeth sambil berkata, “Benar, Elizabeth, kamu cacat.” Guru itu berhenti sejenak dan meneruskan, “Tapi, Elizabeth, saya pun cacat dan setiap orang juga cacat, karena tidak seorang pun yang sempurna. Meski demikian, Elizabeth, tak ada seorang pun yang cacatnya seperti orang yang sebenarnya bisa mengerti tapi tidak mau mengerti.”                    - Art Fetting

Bagaimana sikap kita terhadap orang yang cacat fisik? Bisakah kita mengerti tentang kecacatan diri bukan hanya melihat orang lain?

Perenungan 
          Kata tabib (Bhs.Ibr.rafa atau Yun.iatros) mengandung pengertian yang hampir sama dengan “dokter” pada masa kini yang berfungsi menyembuhkan (Kel 15:26) dengan mengobati (Mrk 5:26) penyakit-penyakit tertentu (Luk 8:43). Dalam sebuah pepatah, Yesus berkata kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersunggut-sunggut ketika Yesus makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk 5:31). Apa arti perkataan ini? Tahukah kita bahwa kita adalah orang yang sakit? Bukankah amat disayangkan bila kita tidak menyadari penyakit kita?      
            Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menganggap dirinya benar, sehat dan tidak cacat. Mereka bukan hanya memandang dirinya, tetapi menganggap orang lain berpenyakit, cacat dan berdosa. Penilaian diri yang keliru akan berdampak fatal bagi diri sendiri maupun orang lain. Lewi si pemungut cukai melihat dirinya sebagai orang berpenyakit yang membutuhkan tabib. Ia “berdiri dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia” (Luk 5:28). Datang pada Tabib yang Agung berarti penyakit telah tertangani dan kini meninggalkan dirinya sebagai orang tahir.
            Kisah yang sama juga dialami oleh seorang yang buta sejak lahir (Yoh 9). Meskipun setelah kesembuhannya baru mengenal Tabib yang Agung dan siapa dirinya (ay 35-38), namun tidak ada kata terlambat dalam mengikut Yesus. Hanya orang-orang yang tidak menyadari keberadaan dirinya, lalu menyangkali Tuhan Penyembuh (Ibr. Jehovah Rapha) yang datang untuk menolong orang-orang yang sakit. “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu” (ay 41). Perkataan yang serupa seperti di atas, kembali terucap dari mulut Yesus bagi orang-orang Farisi.
Cerita tentang orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bisa berlanjut pada masa kini sekalipun ditempatkan dalam rentang waktu yang lama. Pastilah para penulis Alkitab tidak bermaksud menginginkan kita seperti mereka. Inti dari berita yang ingin disampaikan yaitu kita memiliki Tabib yang Agung yang mengerti segala kelemahan dan kekurangan kita. Dia mengalami segala penyakit, penderitaan, kesesakan, penolakan, bahkan kematian. “Orang mengira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah, tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggung-Nya” (Yes 53:4). Maukah kita mengakui keberadaan diri kita yang sesungguhnya? Ada ganjaran bagi mereka yang tulus dan terbuka bagi Tabib yang Agung, bahwa oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh (Yes 53:5; 1 Ptr 2:24).

Penerapan
  • Apa kata Alkitab berkenaan dengan pekerjaan Tabib yang Agung (Luk 7:22)? Adakah sesuatu yang tidak dapat dilakukan-Nya terhadap orang yang hidup dan orang yang mati?
  • Apakah kita mau mengakui keberadaan diri kita di hadapan Tabib yang Agung apapun kelemahan, kekurangan, kesalahan dan dosa kita? Apa janji Tabib yang Agung bagi yang datang pada-Nya (Luk 7:23)?

Ayat emas:

“Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku, dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.”
Mazmur 32:5
 
“Seorang yang benar-benar butalah yang tidak dapat melihat pengaruh kejahatan yang sedemikian hebat dalam dunia. Bahkan perlu campur tangan Allah sendiri untuk membebaskan kemanusiaan dari kutukan kejahatan, karena tanpa campur tangan-Nya manusia akan terhilang.”



  • Carl Gustav Jung

Minggu, 08 Mei 2011

Materi Pemuridan

Allah Melihat Hati

Pengantar
            Seorang nenek tua dan cucu perempuannya sedang memilih benih sebagai persiapan untuk menanam. Melihat isi kantong kecil yang ada ditangannya, si cucu bertanya: “Apakah setiap benih itu sama dengan suatu janji, nek?” Ya, jawab sang nenek. “Setiap benih adalah sebuah janji, tetapi sama seperti janji yang mana beberapa syarat harus dipenuhi sebelum terwujud.” Tuhan telah memberi kita janji penghiburan di saat sedih; kekuatan di saat pencobaan; cahaya di saat hari-hari gelap. Tapi kita harus memiliki iman dan ketabahan untuk terus maju dalam saat-saat sulit. “Sebelum benih kecil bersedia dikubur di dalam tanah, dan terbuka terhadap hujan, angin dan sinar matahari, berbagai kemungkinan dan janjinya yang indah tidak akan terwujud.”   -Forward
Bagaimana dengan respons kita terhadap janji Allah?  Apakah kita membuka hati untuk Dia berkarya pada diri kita yang dipanggil sesuai rencana-Nya?

Perenungan
Istilah hati (Bhs.Ibr. leb atau Yun.kardia) dalam Alkitab bukan saja menunjuk pada organ tubuh tetapi jauh lebih mengarah pada kedalaman diri seseorang atau kepribadiannya (Kej 17:17; Pkh 1:16; Yer 3:15). Hati merupakan tempat bagi pengetahuan dan hikmat (Ul 8:5; 29:4; 1 Raj 3:9; Ayb 22:22), emosi (Ul 6:5; Yes 35:4) serta karakter moral dan spiritual seseorang (Ayb 27:6; 2 Sam 24:10; 1 Raj 3:6). Bila lebih dari 860 kali istilah hati muncul dalam Perjanjian Lama, dengan kata lain hati memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia.
Tuhan Yesus berkata: “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik” (Luk 6:45) dan “ucapan dari mulut sesungguhnya berasal dari hati” (Mat 12:34). Perkataan Yesus bisa diartikan bahwa hati sebagai pusat dari seluruh kehidupan manusia sangat mempengaruhi tindakan. Kita perlu terbuka bagi pekerjaan Allah di dalam hati supaya menghasilkan tindakan yang baik. Allah memerlukan tanah yang subur untuk ditaburi benih firman Allah supaya dapat bertumbuh dan menghasilkan buah sesuai kehendak-Nya (Mat 13:23).
Patut kita mengerti bahwa hanya Allah yang baik dapat melakukan sesuatu yang baik dalam kehidupan kita. Dia senantiasa menghasilkan kebaikan dari hati-Nya yang baik. Kita tidak bisa menghasilkan kebaikan dengan upaya sendiri, terlebih dari hati yang belum diperbarui. Hati yang terbuka adalah lahan yang memudahkan Allah mengulurkan tangan mengarap hidup kita. Kita dipanggil untuk selalu terbuka dalam proses pembentukan manusia Allah. Manusia yang serupa dengan gambar dan rupa Allah.
Firman yang kita dengar sungguh dekat, yakni di dalam mulut dan di dalam hati kita untuk dilakukan (Ul 30:14). Hati yang terbuka bagi Yesus dan mulut yang mengakui Dia adalah Tuhan atas hidup kita, tidak akan kehilangan kesempatan yang berharga di sepanjang kehidupannya. Sebab Allah melihat hati (1 Sam 16:7) yang terbuka bagi diri-Nya dan rencana-Nya yang mulia. Mari kita menghampiri Allah dengan hati yang terbuka untuk mendapat kasih karunia bagi jiwa yang hancur.


Penerapan
  • Bagaimana sikap raja Asa terhadap nabi Azarya bin Oded yang menyampaikan firman Tuhan (2 Twr 15:2, 8)? Bagaimana sikap kita terhadap kebenaran-Nya?
  • Apa yang dilakukan oleh raja Asa dan bangsa Yehuda berhubungan dengan hati yang terbuka dan pengakuan/perjanjian dengan Allah (2 Twr 15:12-14)?  Apakah kita melakukan hal yang sama dalam hati dan mulut kita?

Ayat emas:

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata tetapi Tuhan melihat hati“
( 1 Samuel 16:7)

“Biarlah hatimu menjadi rumah Allah, bukan bagi dunia dan segala perkaranya, tetapi bagi Allah dengan segala pikiran-Nya.”
 


·        Andrew Murray

Kamis, 14 April 2011

Bahan Pemuridan

Aku Bukan Mesias

Pengantar
            Seorang anak laki-laki mempersilahkan kepada seorang ibu untuk memetik buah arbei dan menimbang sesuai ukuran yang dibelinya. Tanya seorang ibu: “Mengapa kamu tidak masuk dan melihat apakah saya mengambil buah arbeimu dengan tepat ukurannya?” “Saya tidak takut,” jawab anak itu, “karena ibu akan mendapatkan yang terburuk darinya.” “Apa maksudmu? Tanya ibu itu. Karena, bu,” jawab anak itu, “saya hanya akan kehilangan buah arbei; tapi ibu akan menjadikan diri sendiri seorang pencuri.”                                                                                         - Dr.Purnell Bailey
Bila tidak ada yang tahu atau melihat kita, apa yang akan saudara perbuat dengan barang orang lain?  Bagaimana dengan sesama kita waktu saudara berbicara tentang diri sendiri? Apakah kita sebesar, sehebat atau sepandai apa yang kita perkatakan?

Perenungan
Seorang psikolog yang bernama Ralph Earle pernah berkata: “The secret is the fertile place for an addiction.” Sesuatu yang dirahasiakan memang merupakan lahan yang subur bagi kita untuk mengulanginya. Kita bisa menjadi kecanduan untuk tidak mengatakan yang benar tentang diri sendiri. Kesaksian diri merupakan ungkapan batin yang nampak  lewat sikap, perkataan maupun perbuatan. Kesaksian yang benar lahir dari batin yang murni tanpa konflik diri. Antara hati dan tindakan selaras, pikiran dan perasaan tidak saling menuduh atau membela diri, dan apa yang diucapkan lahir dari motivasi yang tulus.
       Yohanes Pembaptis berkata berkata benar. Ia tidak mendustai diri. “Aku bukan Mesias,” akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun (Yoh 1:20, 23). Ia tahu siapa dirinya dan berkata-kata tentang dirinya, sebelum berbicara perihal Mesias.
       Jujur terhadap diri tidak akan melukai nurani. Benar di dalam batin akan membuahkan kebenaran bagi orang lain. Sebaliknya, dusta pada diri sendiri melahirkan dusta terhadap sesama. Tidak ada yang dapat dipertukarkan dengan nilai kejujuran.
          Yohanes Pembaptis tidak mencari popularitas diri, lagi bila ia berhadapan dengan Mesias. “Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak” (ay 27). Ia tahu diri, jujur terhadap diri, berkata benar tentang diri, dan kesaksian itu benar dihadapan Tuhan.
        Bagian terpenting dari jujur pada diri adalah kebenaran di mata Allah. Tidak seorangpun tahu apa yang terdapat di dalam dirinya selain rohnya (1 Kor 2:11) dan sudah barang tentu Roh Allah yang tahu secara persis. Orang yang jujur pada diri sendiri dikenan oleh Allah. Ia dinyatakan benar tatkala mengakui siapa dirinya. Tanpa menutupi atau menyangkali keberadaan diri, memudahkan pekerjaan Allah yang terbesar terjadi atas kita. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yoh 1:9).  Allah memanggil kita bukan untuk mendustai diri sendiri, demikian juga dengan karya-Nya pada diri kita. Kita tidak berkata benar bahwa Allah berbuat baik pada kita bila kita tidak mengalami kebaikan-Nya. Ia berkata maka Ia melakukan. Janji-Nya berlaku bagi kita yang terpanggil sesuai rencana-Nya. Mari kita berkata jujur pada diri sendiri, karena Ia jujur terhadap diri-Nya dan apa yang dikatakan pasti digenapi.

Penerapan
  • Apa kata Daud dihadapan Allah ketika ia telah menghampiri Batsyeba (Mzm 51:5)? Apakah kita berkata jujur pada diri sendiri seperti raja Daud?
  • Apa ganjaran bagi raja Daud yang jujur pada diri sendiri, pada nabi Natan dan terlebih pada Tuhan (2 Sam 12:13)?  Bila melihat upah yang besar dibalik penderitaan yang berat tanpa kejujuran, apakah kita mau bersikap jujur pada diri sendiri sekalipun orang lain tidak tahu?

Ayat emas:
“Siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan
Kuperlihatkan kepadanya”
 (Mazmur 50:23)

“Orang yang sambil menempuh jalan menuju kebenaran itu menjadi sadar betapa jauh perjalanan yang masih harus ditempuh menuju hidup tak bercela, dialah itu yang sungguh maju dalam kebenaran.”

  • De Spriritu et Littera karya St.Augustinus